Pawisikbali.com – Badung, Saat ini di Bali sedang ramai menjadi perbincangan terkait pemutaran visual Dewa Siwa di Atlas Beach Club. Beberapa elemen masyarakat bahkan menuntut untuk menutup beach club terbesar di Asia ini.
Dengan alasan, bahwa penayangan visualisasi Dewa Siwa dalam pertunjukan DJ di sebuah night club tidak tepat dan terindikasi melecehkan simbol agama Hindu. Seharusnya, setiap orang atau perusahaan menghormati simbol suci ini.
Yang menjadi ulasan kali ini adalah kenapa reklamasi di Loloan Yeh Poh tidak ada yang meributkan saat ini. Padahal Loloan Yeh Poh yang terletak di Canggu ini merupakan tempat yang disucikan masyarakat setempat.
Seperti diketahui, pemerintah melakukan penataan kawasan di Loloan Yeh Poh. Namun, apa yang terjadi? Justru Loloan Yeh Poh mengalami reklamasi atau sering disebut tanah timbul oleh masyarakat setempat.
Alih-alih menata Loloan Yeh Poh, aliran sungai kini menyempit. Tentu ini menjadi masalah saat musim hujan, aliran air tidak bisa dengan lancar ke laut.
Selain itu, kini di area reklamasi loloan telah mulai ada kegiatan pembangunan. Entah apa yang akan dibangun. Saat turun ke lokasi, terlihat ada beberapa pondasi bangunan di tempat tersebut.
Selain itu, ada juga pondasi bangunan yang dibangun di sepadan pantai. Apakah dibenarkan secara aturan untuk membangun mepet dengan laut?
Lalu, mengapa tidak ada komponen atau tokoh masyarakat yang kini ribut atau melakukan protes terhadap situasi di Loloan Yeh Poh? Apakah isu Loloan Yeh Poh tidak sama “Seksi” dengan isu-isu yang viral saat ini?
Atau sudah mendapatkan “suatu kenyamanan” dari pemodal besar? Ingat ini adalah kawasan suci Loloan Yeh Poh, sama-sama sebagai hal yang disucikan bagi umat Hindu.
Jeg sepi sing ada bani bergerak, minimal coba sidak cepok! Biar masyarakat tahu apakah bangunan di area reklamasi ini memiliki ijin atau tidak.


















