Pawisikbali.com – Denpasar, Pulau Bali selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Tak heran, pulau ini mendapatkan beragam nama seperti Pulau Seribu Pura, Pulau Dewata, Pulau Surganya Pelancong, dan lain sebagainya.
Sayangnya, kini sebutan tersebut sepertinya sudah tidak relevan lagi. Mengapa? Banyak persoalan melilit pulau wisata ini. Salah satunya adalah masalah sampah.
Permasalahan sampah hingga kini tidak kunjung usai. Tidak ada kebijakan yang pasti mengenai penanganan sampah ini. Sebagian daerah di Bali masih mengandalkan tempat penampungan akhir (TPA) Suwung yang sudah sangat-sangat overloaded.
Sedikit saja masalah terjadi di TPA ini, maka masyarakat bisa menyaksikan sampah-sampah tak terangkut di pinggir jalan. Wajah daerah wisata akan rusak dengan banyaknya sampah tak terurus.
Jaman pemerintahan Jokowi, Bali mendapatkan bantuan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) tepatnya di Kota Denpasar. Sayangnya, TPST dengan biaya rakyat milyaran rupiah ini kini mangkrak.
Permasalahan sampah di Bali ini datang dari berbagai faktor. Dari masyarakat yang belum mampu memilah sampah secara mandiri hingga belum adanya kebijakan yang tepat terkait masalaha ini.
Walaupun masyarakat belum secara sadar memilah sampahnya, tapi ini tidak bisa dijadikan alasan mencuatnya permasalahan sampah di Bali. Seharusnya, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta stake holder terkait memiliki solusi pasti.
Hingga kini, belum ada solusi pasti mengenai masalah sampah ini dari pemerintah. Atau memang sudah ada?
Pemerintah seperti seolah-olah tutup mata terkait permasalahan ini. Sampai kapan menunggu penyelesaian masalah sampah ini? Apakah menunggu hingga sampah sudah tidak bisa terkendalikan lagi?
Siapa yang akan rugi? Tak hanya pelaku pariwisata saja yang terkena dampaknya. Tetapi, seluruh masyarakat Bali akan terkena dampak baik secara ekonomi maupun kesehatan.
“Kenjel memunyi, tapi sing runguanga ajak bapak-bapak di beduur”. Nyak cara keto semeton?


















