Banjir Bali: Bencana Alam atau Bencana Tata Ruang?

Jangan salahkan alam!!!

banner 468x60

Denpasar – Pawisikbali.com, Sejumlah wilayah di Bali kembali dilanda banjir pada Rabu (10/9/2025). Jalan tergenang, rumah warga terendam, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Namun pertanyaan besar kembali mengemuka: benarkah banjir ini sekadar bencana alam, atau justru buah dari tata ruang dan tata kelola ruang yang amburadul?

Alih Fungsi Lahan yang Tak Terkendali

Banjir yang kerap melanda bukan hanya akibat curah hujan tinggi. Faktor utama justru ada pada alih fungsi lahan yang masif dan tak terkendali. Jalur hijau yang seharusnya menjadi ruang resapan air bertransformasi menjadi deretan bangunan. Area sempadan sungai, tebing, bahkan pesisir pantai yang semestinya steril, kini dipenuhi villa, hotel, dan bangunan komersial.

banner 336x280

Tata Kelola Ruang yang Diperdagangkan

Ironisnya, izin mendirikan bangunan sering kali bisa didapat dengan mudah jika ada uang. Regulasi yang seharusnya melindungi lingkungan malah jadi barang dagangan. Tata kelola ruang seolah hanya berpihak pada pemilik modal, bukan pada keberlanjutan hidup masyarakat luas.

Sampah, Luka Lama yang Tak Kunjung Sembuh

Tak hanya soal bangunan. Masalah klasik yang selalu menjadi faktor memperparah banjir adalah sampah. Dengan pengelolaan sampah yang belum terintegrasi dan kesadaran masyarakat yang minim, sungai kerap menjadi tempat pembuangan akhir. Akibatnya, aliran air tersumbat, dan hujan sedikit saja bisa memicu genangan luas.

Masyarakat yang Menanggung Akibat

Yang paling merasakan dampaknya tentu masyarakat luas. Warga kecil yang rumahnya terendam, pekerja yang tak bisa beraktivitas, anak-anak yang terganggu sekolahnya. Sementara para pemilik modal tetap nyaman di hunian megahnya di dataran tinggi atau villa-villa eksklusif.

Banjir Adalah Bencana Tata Ruang

Banjir di Bali bukan sekadar bencana alam. Ia adalah cermin dari kegagalan tata ruang dan tata kelola ruang. Jika alih fungsi lahan, lemahnya penegakan aturan, serta pengelolaan sampah tidak segera dibenahi, banjir akan terus jadi tamu tahunan yang membawa kerugian lebih besar.

Pertanyaan kritisnya: sampai kapan kita membiarkan ruang hidup dikelola dengan cara yang ugal-ugalan?

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.