Pawisikbali.com – Denpasar, Gelombang aksi demonstrasi yang merebak di berbagai daerah dinilai mencerminkan kekecewaan rakyat Indonesia terhadap meningkatnya praktik kekerasan negara. Hal ini disampaikan Forum Warga Setara (ForWaras) dalam pernyataan sikap bersama di Sekretariat LBH Bali, Selasa (2/9/2025).
Pernyataan tersebut dibacakan oleh Agung Alit, Ni Nengah Budawati, Nyoman Mardika, Ni Putu Candra Dewi, Rezky Pratiwi, dan Firmansyah Krisna Maulana. Mereka menyoroti berbagai kebijakan pemerintah yang menimbulkan ketidakpuasan publik, mulai dari besarnya gaji dan tunjangan DPR serta sikap arogan anggotanya, kebijakan efisiensi yang justru membebani rakyat lewat pajak, pembentukan aturan hukum yang merampas hak warga, hingga sikap anti kritik pemerintah dan tindakan brutal aparat kepolisian yang menelan korban.
Di Bali, kekecewaan itu memuncak dalam aksi demonstrasi 30 Agustus 2025. Warga menyuarakan keresahan terkait kenaikan pajak di Badung hingga 3.569% melalui Perbup Nomor 11 Tahun 2025, buruknya tata kelola sampah, kemacetan, maraknya alih fungsi lahan pertanian untuk proyek wisata yang merusak lingkungan, rendahnya upah di tengah biaya hidup tinggi, serta lemahnya respons pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan mendasar.
Dalam sikap resminya, ForWaras menyampaikan beberapa poin:
-
Mengecam pernyataan rasis pejabat publik di Bali yang memecah belah, serta menuntut agar diskriminasi dan stigmatisasi terhadap demonstran dihentikan.
-
Mendesak Kompolnas dan Propam Polri memeriksa Karo Ops Polda Bali beserta aparat terkait, sekaligus merekomendasikan sanksi tegas hingga pemecatan terhadap pejabat yang melontarkan pernyataan diskriminatif.
-
Meminta Ombudsman RI menyelidiki dugaan maladministrasi oleh Gubernur Bali dan Karo Ops Polda Bali terkait ucapan keduanya.
-
Menuntut pemerintah dan DPR bertanggung jawab dengan mendengarkan suara rakyat, menjamin kebebasan berpendapat, serta menghentikan kebijakan anti kritik yang merugikan masyarakat.
-
Mengajak rakyat Bali dan seluruh Indonesia memperkuat solidaritas untuk melawan rasisme dan politik adu domba.













