Pecalang, Benteng Kearifan Bali: Menjaga Kedamaian Tanpa Perlu Ormas

Tolak ormas luar Bali!!!

banner 468x60

Pawisikbali.com-Denpasar, Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan pariwisata yang kompleks, Bali tetap berdiri teguh menjaga jati dirinya. Keindahan alamnya memang menawan, namun daya tarik sejatinya adalah budaya yang hidup—budaya yang dijaga, dihormati, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Di garis depan perlindungan budaya itu, berdiri para pecalang.

Pecalang bukan sekadar penjaga upacara. Mereka adalah simbol kearifan lokal, pilar keamanan berbasis adat yang telah terbukti efektif menjaga ketertiban masyarakat Bali, bahkan sejak sebelum konsep keamanan modern lahir. Dalam sistem “Sipandu Beradat”, yang diatur dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2020, pecalang menjadi elemen resmi dalam menjaga harmoni sosial di desa adat.

banner 336x280

Mereka bekerja dengan pendekatan yang unik—tanpa kekerasan, tanpa intimidasi, dan tanpa atribut kekuasaan. Teguran diberikan dengan sopan, edukasi dilakukan dengan bahasa hati. Pecalang lebih mengandalkan otoritas moral dan sosial yang berasal dari adat, bukan kekuatan fisik atau simbol kekuasaan.

Namun belakangan ini, muncul fenomena kehadiran organisasi kemasyarakatan (ormas), baik dari luar Bali maupun lokal, yang mencoba mengambil peran pengamanan di ruang-ruang publik. Kehadiran ormas—yang seringkali membawa pendekatan agresif dan konfrontatif—justru berpotensi mengganggu keharmonisan sosial yang telah terjaga selama ini. Di sinilah pentingnya menegaskan kembali bahwa Bali tidak membutuhkan ormas untuk menjaga keamanannya.

Keamanan Bali bukan milik segelintir pihak yang datang dengan bendera organisasi. Keamanan Bali adalah tanggung jawab bersama masyarakat adat yang telah teruji oleh waktu—dijalankan oleh pecalang, dengan kearifan lokal sebagai pedomannya.

Pecalang tidak bekerja sendiri. Mereka bersinergi dengan aparat pemerintah seperti kepolisian dan Satpol PP dalam bingkai hukum yang sah. Tugas mereka bukan mengambil alih kewenangan negara, melainkan menjaga agar budaya dan adat istiadat tidak terkikis oleh arus luar yang tidak paham nilai-nilai lokal.

Ketika pecalang menolak kehadiran ormas yang mencoba mengambil peran pengamanan, itu bukan sekadar penolakan simbolik. Itu adalah bentuk perlawanan terhadap kekerasan, terhadap ancaman terhadap tatanan adat, dan bentuk nyata pertahanan terhadap identitas Bali.

Bali tidak menolak bantuan, tetapi Bali menolak intervensi yang tidak memahami jiwanya. Karena Bali tidak dibangun di atas kekuatan, tapi atas keharmonisan.

Maka hari ini, ketika Anda berjalan-jalan di Bali, dan melihat seorang pecalang berdiri tenang di perempatan jalan dengan saput poleng dan senyum bersahaja, ingatlah—dia bukan sekadar penjaga lalu lintas. Ia adalah penjaga warisan, penjaga kehormatan, dan benteng terakhir budaya Bali.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.